BUDIDAYA
Bibit diperoleh dari perbanyakan secara vegetatif yaitu anakan yang
tumbuh dari rimpang tua yang berumur 9 bulan atau lebih, kemudian bibit
tersebut ditunaskan terlebih dahulu di tempat yang lembap dan gelap
selama 2-3 minggu sebelum ditanam
[1].
Cara lain untuk mendapatkan bibit adalah dengan memotong rimpang tua
yang baru dipanen dan sudah memiliki tunas (setiap potongan terdiri dari
2-3 mata tunas), kemudian dikeringkan dengan cara dijemur selama 4-6
hari
[2]. Temulawak sebaiknya ditanam pada awal musim hujan agar rimpang yang dihasilkan besar, sebaiknya tanaman juga diberi naungan
[1].
Lahan penanaman diolah dengan
cangkul sedalam 25-30
sentimeter, kemudian dibuat bedengan berukuran 3-4
meter dengan panjang sesuai dengan ukuran lahan, untuk mempermudah drainase agar rimpang tidak tergenang dan membusuk
[5]. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 20
sentimeter x 20
sentimeter x 20
sentimeter dengan jarak tanam 100
sentimeter x 75
sentimeter, pada setiap lubang tanam dimasukkan 2-3
kilogram pupuk kandang
[1].
Penanaman bibit dapat pula dilakukan pada alur tanam/ rorak sepanjang
bedengan, kemudian pupuk kandang ditaburkan di sepanjang alur tanam,
kemudian masukkan rimpang bibit sedalam 7.5-10
sentimeter dengan mata tunas menghadap ke atas
[5].
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyiangan
gulma sebanyak 2-5 kali, tergantung dari pertumbuhan
gulma, sedangkan pembumbunan tanah dilakukan bila terdapat banyak rimpang yang tumbuh menyembul dari tanah
[1].
Waktu panen yang paling baik untuk temu lawak yaitu pada umur 11-12
bulan karena hasilnya lebih banyak dan kualitas lebih baik daripada temu
lawak yang dipanen pada umur 7-8 bulan
[5]. Pemanenan dilakukan dengan cara menggali atau membongkar tanah disekitar rimpang dengan menggunakan garpu atau
cangkul[1].
Pertumbuhan
Iklim
- Secara alami temulawak tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh
dan terlindung dari teriknya sinar matahari. Di habitat alami rumpun
tanaman ini tumbuh subur di bawah naungan pohon bambu atau jati. Namun
temulawak juga dapat dengan mudah ditemukan di tempat yang terik seperti
tanah tegalan. Secara umum tanaman ini memiliki daya adaptasi yang
tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah beriklim tropis.
- Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman ini antara 19-30 oC
- Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan antara 1.000-4.000 mm/tahun.
Media tanam
Perakaran temulawak dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis
tanah baik tanah berkapur, berpasir, agak berpasir maupun tanah-tanah
berat yang berliat. Namun untuk memproduksi rimpang yang optimal
diperlukan tanah yang subur, gembur dan berdrainase baik. Dengan
demikian pemupukan anorganik dan organik diperlukan untuk memberi unsur
hara yang cukup dan menjaga struktur tanah agar tetap gembur. Tanah yang
mengandung bahan organik diperlukan untuk menjaga agar tanah tidak
mudah tergenang air.
Ketinggian
Temulawak dapat tumbuh pada ketinggian tempat 5-1.000 m/dpl dengan
ketinggian tempat optimum adalah 750 m/dpl. Kandungan pati tertinggi di
dalam rimpang diperoleh pada tanaman yang ditanam pada ketinggian 240
m/dpl. Temulawak yang ditanam di dataran tinggi menghasilkan rimpang
yang hanya mengandung sedikit minyak atsiri. Tanaman ini lebih cocok
dikembangkan di dataran sedang.